Sabtu, 05 Februari 2011

PERSON CENTERED THERAPY (TERAPI BERPUSAT PRIBADI)


PEMBAHASAN
PERSON-CENTERED THERAPY (CARL ROGERS)

1.   BIOGRAFI : CARL ROGERS
Carl Ransom Rogers lahir pada tahun 1902. Dia adalah anak keempat dari enam bersaudara dan dia dibesarkan di sebuah peternakan di Illinois. Orangtuanya adalah penganut Kristen fundamentalis yang taat, yang kemudian Rogers menggambarkannya sebagai orang yang sangat suka mengekang. Ia menceritakan bagaimana orang tuanya mengajarkan agar ia menjaga jarak ketika sedang berinteraksi dengan orang asing
Dinamika keluarga Rogers nampaknya mendasari perubahan-perubahan sosial dan personalnya. Dalam berbagai hal, sebagai seorang ahli terapi, Rogers dituntut untuk menciptakan lingkungan terapi yang benar-benar ramah, terbuka, dan nyaman. Ia mencoba membantu kliennya merasakan sebuah pengalaman yang merupakan kutub yang berlawanan dengan apa yang dialaminya dengan orang tuanya.
Walaupun orang tuanya tidak peduli dengan intelektualitas, Roger tetap kuliah, mulanya mengikuti peraturan keluarga dengan mengambil jurusan pertanian. Ia juga tergabung dalam kelompok Asosiasi Pemuda Kristen dan menjadi salah satu dari dua belas mahasiswa yang terpilih untuk menghadiri Konferensi Federasi Mahasiswa Kristen Dunia di Peking, China.
Dalam perjalanan inilah, menurut Bankhart, “Rogers tampak seperti Rogers.” Ia pergi selama enam bulan. Bagaimanapun pengalaman ini membawa perubahan-perubahan pada diri Rogers :
1.      Dia menolak ideologi orangtuanya yang konservatif.
2.      Dia memutuskan untuk menikahi kekasih masa kecinya.
3.      Ia memutuskan untuk meraih gelar masternya di Seminari Teologi Negara Liberal di New York.
2.   MANUSIA, ASAS-ASAS KEMANUSIAAN, DAN TEORI KEPRIBADIAN
      Carl Rogers dengan aliran konseling humanistik memiliki pandangan dasar tentang manusia, yaitu bahwa pada dasarnya manusia itu adalah makhluk yang optimis, penuh harapan, aktif, bertanggung jawab, memiliki potensi kreatif, bebas (tidak terikat oleh belenggu masa lalu), berorientasi ke masa yang akan datang dan selalu berusaha untuk melakukan self fullfillment (memenuhi kebutuhan dirinya sendiri untuk bisa beraktualisasi diri).
Dengan pandangan dasarnya tentang manusia tersebut, Rogers membagi teori kepribadiannya ke dalam 4 bagian yang paling utama, yaitu :
      1.   Teori Diri (Self-Theory)
      Rogers dalam hal ini percaya bahwa pada hakikatnya manusia berada dalam sebuah dunia yang tidak pernah berubah di mana sesungguhnya, dialah yang menjadi pusat dari kesemuanya itu. Rogers percaya bahwa diri (self) bukan merupakan sebuah struktur yang tetap, tetapi merupakan struktur yang berada dalam suatu proses, memiliki kemampuan baik untuk keadaan yang stabil maupun perubahan. Diri (self) sendiri terbagi ke dalam alam sadar (conscious) dan alam tak sadar (unconscious).
      Rogers juga menyebut nama organisme, untuk semua pengalaman-pengalaman psikologis. Secara lebih jelasnya, organisme adalah medan fenomenal yang hanya dapat diketahui oleh individu itu sendiri. Pengalaman fenomenal itu sendiri terbagi menjadi dua, yaitu pengalaman sadar (dilambangkan) dan pengalaman tak sadar (tidak dilambangkan).
2.      Kejadian dan Pengalaman yang bernilai
      Person-centered therapy didasarkan pada kepercayaan bahwa diri memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah yang dihadapinya sendirian. Person-centered therapy mengutamakan pemahaman atas pengalaman-pengalaman pribadi yang dialami oleh individu. Merasakan pengalaman (memahami) merupakan cara yang akurat untuk memahami diri sendiri dan lingkungannya.
      3.   Potensi untuk tumbuh dan belajar
      Rogers percaya bahwa kecenderungan aktualisasi dan perkembangan diri melekat sangat kuat dalam diri setiap manusia. Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan untuk tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya sesuai dengan potensi-potensi yang dimilikinya. Hanya saja, yang terkadang menjadi masalah adalah orang-orang tersebut kurang paham mengenai kelebihan, kekurangan, dan potensi yang dimilikinya itu.
      4.   Kondisi-kondisi yang berharga
      Pada dasarnya, manusia memiliki kecenderungan untuk mengarahkan dan mempertinggi dirinya sendiri. Sehingga manusia merasa memerlukan dua hal utama, yaitu penghargaan positif dan penghargaan diri.
      Secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa person-centered therapy memandang individu itu ada dari kebermaknaannya pada diri sendiri, orang lain, serta lingkungan sekitarnya. Individu bisa dikatakan ada karena sumbangan yang diberikannya pada baik diri sendiri, orang lain, serta lingkungannya.

3.   PERKEMBANGAN PRIBADI
      Sebagaimana model-model konseling yang lain, person-centered therapy juga memiliki pandangan tersendiri mengenai perkembangan perilaku yang terjadi pada manusia. Menurut person-centered, manusia bisa berkembang ke dua arah, yakni mengarah menjadi pribadi yang sehat, dan pribadi yang tidak sehat.
      Meskipun organisme dan diri (self) memiliki tendensi untuk mengaktualisasikan diri, namun keduanya juga dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Rogers memusatkan perhatiannya pada cara penilaian orang-orang terhadap individu, khususnya selama masa kanak-kanak yang cenderung memisahkan pengalaman-pengalaman organisme dan diri.
      Sebagai pribadi yang sehat, artinya manusia bisa menyesuaikan dirinya dengan orang lain maupun lingkungan sekitarnya dengan baik, dan dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangannya dengan baik pula.
      Sedangkan yang dimaksudkan dengan pribadi yang kurang sehat, ditandai dengan adanya ketidakseimbangan potensi-potensi yang dimiliki oleh individu yang seringkali disebut dengan istilah tidak kongruen (incongruence). Ada juga istilah yang menyebutkan sebagai pribadi yang tidak konsisten karena adanya ketidakseimbangan antara self dan organisme.
      Secara lebih jauh, menurut Rogers, pribadi yang tidak sehat dapat ditandai dengan adanya konsep diri yang tidak selaras dengan organisme. Seseorang berusaha menjadi apa yang diinginkan oleh orang lain, dan tidak berusaha menjadi apa yang diinginkannnya. Masalah individu yang tidak sehat ini dapat diatasi apabila individu yang bersangkutan bersedia untuk mengungkapkan perasaannya secara bebas dan berstruktur, sehingga individu tersebut telah mampu menyadari pengalaman-pengalamannya.

4.   KARAKTERISTIK KONSELING
a.   Karakteristik Dasar Konseling
      Konseling dengan pendekatan person-centered therapy, menekankan beberapa karakteristik utama, di antaranya adalah sebagai berikut :
·         Pada dasarnya, konseli yang ada dalam konseling memiliki daya potensi yang kreatif
·         Konseling dan terapi seharusnya hanya membantu konseli untuk menerima keunikan dirinya dibandingkan dengan orang lain serta memperoleh kepercayaan dirinya
·         Konseli dalam proses konseling merupakan tokoh pusat (central figure), sedangkan fungsi konselor hanyalah untuk membantu konseli mengakses kekuatan daya kreasi mereka, agar mereka bisa mengeluarkannya dan memanfaatkaanya secara lebih optimal
·         Konselor seharusnya dalam proses konseling tidak mencari-cari kesempatan untuk mendidik atau mengajar konseli
·         Konselor bekerja ketika konseli sudah sepenuhnya memahami dan mengalami apa yang terjadi di masa sekarang sesuai dengan pengaturan atau setting konseling
·         Konselor hendaknya menghormati konseli apa adanya
·         Konselor hendaknya mempercayai konseli sesungguhnya
b.   Prinsip Dasar Aplikasi Multikultural
      Sensitivitas serta pemberian penghargaan positif tanpa syarat kepada konseli yang memiliki masalah dan kepercayaan kebudayaan serta latar belakang mereka, membuat person-centered therapy menjadi salah satu model konseling yang cukup populer. Sehingga meskipun pertama kalinya digunakan di Amerika Serikat, namun person-centered therapy juga banyak dikenal di Jepang, Afrika Selatan, Amerika Selatan, dan beberapa Negara di Eropa serta Inggris.
      Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang Afrika-Amerika, Amerika-Indian, Asia-Amerika dan Hispanik Amerika cenderung untuk memilih aktif, pendekatan direktif, serta orientasi nasihat di mana konselor lebih pasif, nondirektif, dan orientasi perasaan konselor.
      Menurut penelitian pula, siswa Asia-Amerika rata-rata aktif dan konselor yang menggunakan metode direktif lebih dapat dipercaya dibandingkan dengan konselor yang menggunakan metode nondirektif.
      Pada intinya, person-centered therapy bisa dilakukan secara tidak langsung dengan orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda dengan kita. Sebagai contohnya, jika konselor terlalu menampilkan sikap kongruennya, maka para konseli akan lebih mudah untuk menyatakan pikiran dan perasaannya dengan lebih terbuka lagi.
      Tetapi Rogers juga menyatakan bahwa model konseling yang dimilikinya paling cocok jika digunakan di Amerika.

c.   Perkembangan Person-Centered Therapy
            Person-centered therapy mengalami beberapa fase perkembangan, yaitu :
1)      Konseling Nondirektif, dimulai pada tahun 1940an, dan ditumbuhkembangkan oleh Rogers sebagai metode terapi konseling tradisional
2)      Client-centered therapy, pada tahun 1950an. Ciri utamanya adalah mengubah pendekatan yang digunakan oleh Rogers, dari teknik pendekatan non direktif, menjadi menghormati kemampuan konseli untuk menjalankan proses konseling
3)      Person-centered therapy. Selama tahun 1960an, Rogers lebih menekankan konselingnya pada perkembangan diri, sehingga model konselingnya ia ubah menjadi model konseling person-centered therapy.

5.   KONDISI INTERVENSI
a.   Tujuan Konseling
      Tujuan utama pendekatan person-centered therapy adalah untuk menciptakan iklim yang kondusif sebagai usaha untuk membantu konseli menjadi pribadi yang utuh, yaitu pribadi yang mampu memahami kekurangan dan kelebihan dirinya dirinya. Tidak ditetapkan tujuan khusus dalam pemdekatan person-centered, sebab konselor digambarkan memiliki kepercayaan penuh pada konseli untuk menentukan tujuan-tujuan yang ingin dicapainya dari dirinya sendiri.
      Secara lebih terperinci, tujuan konseling person-centered adalah :
1)      Membantu konseli untuk menyadari kenyataan yang terjadi terhadap dirinya
2)      Membantu konseli untuk membuka diri terhadap pengalaman-pengalaman baru
3)      Menumbuhkan kepercayaan diri konseli
4)      Membantu konseli membuat keputusan sendiri
5)      Membantu konseli menyadari bahwa manusia tumbuh dalam suatu proses
b.   Keadaan Konselor
      Dalam konseling menggunakan metode person-centered therapy, yang harus ditunjukkan konselor pada konseli adalah tiga hal yang paling utama, yaitu :
1.      Unconditional Positive Regard (Penerimaan Positif tanpa Syarat/ Acceptance)
Unconditional positive regard adalah suatu keadaan yang sama dengan acceptance, menghormati serta menghargai. Meliputi penegasan pada nilai-nilai konseli sebagai bagian dari manusia atau organisme yang berpikir, merasa, percaya dan makhluk yang menyeluruh, diterima oleh konselor dalam kondisi apapun tanpa syarat tertentu. Person-centered therapy percaya jika konselor mampu menerima konseli apa adanya, maka konseli akan mulai berpikir mengenai siapa dirinya sebenarnya, dan apa yang sebenarnya dia inginkan. Dengan menunjukkan sikap acceptance seperti apapun konselinya, maka konselor mengajak konseli untuk mulai menerima dirinya sendiri.
2.      Empathy (Empati)
Empati adalah suatu keadaan di mana konselor berusaha untuk ikut merasakan apa yang konseli rasakan, ikut masuk ke dalam dunia konseli, ikut melihat dan mengalami apa yang dilihat dan dialami oleh konseli tetapi tidak ikut hanyut dalam dunia atau kerangka berpikir konseli tersebut.
Macam-macam empati :
a.       Empati intelektual, termasuk melihat dunia dari perspektif konseli dalam lingkup intelektual
b.      Empati emosi, terjadi ketika secara alamiah atau spontan, konselor mulai merasakan emosi dalam merespons dunia konseli dalam lingkup emosi
c.       Empati imajinasi, termasuk bertanya pada diri sendiri “Bagaimana jika saya berada pada posisi konseli saya?”
3.      Congruence (Kongruen/ Asli/ Genuine)
Kongruen didefinisikan sebagai ke otentikan atau keaslian dari diri konselor. Kongruen yang dilakukan oleh konselor adalah benar-benar suatu kenyataan, keterbukaan, dan kejujuran. Kongruen diartikan pula bahwa konselor mampu mengekspresikan kedua hal baik positif maupun negatif pada konseli.
c.   Keadaan Konseli
      Konseli yang bisa dibantu menggunakan person-centered therapy, di antaranya adalah konseli dengan kondisi awal sebagai berikut :
1.      Konseli takut pada konselor dan konseling itu sendiri
2.      Konseli tidak bisa mengekspresikan pengalaman-pengalamannya
3.      Konseli menggunakan pandangan orang lain atau lingkungan sekitarnya dalam mengevaluasi tindakan dirinya
4.      Konseli menunjukkan perasaan negatif baik secara terang-terangan maupun tersembunyi, misalkan tidak bisa mempercayai konselor
5.      Konseli belum bisa menerima tanggung jawab pada diri sendiri
6.      Konseli sering memandang dunia dengan suatu cara mekanik, sehingga menyulitkan diri untuk memisahkan objek dari pengalaman, fakta, daan situasi eksternal.
d.   Situasi Hubungan
      Menurut person-centered therapy, jika kita sebagai konselor bisa menyediakan tipe hubungan tertentu, maka orang lain akan dapat menggunakan hubungan itu untuk pertumbuhan dan perubahan, yang mengakibatkan pada terjadinya perkembangan pribadi.
      Dari sisi Rogers, dijelaskan pula bahwa hubungan antara konselor dan konseli dicirikan oleh adanya kedudukan yang sejajar dan kesamaan derajat antara konseli dan konselor.
      Beberapa poin yang bisa digunakan untuk menunjang perubahan kepribadian konseli dalam person-centered therapy adalah sebagai berikut :
1.      Ada dua orang dalam kontak psikologis
2.      Orang pertama disebut sebagai klien/ konseli yang berada pada tahap yang inkongruen, mudah dipengaruhi, dan cemas atau khawatir
3.      Orang kedua yang dinamakan konselor adalah orang yang kongruen dan terintegrasi dalam hubungan tersebut
4.      Konselor memberikan penghargaan positif tidak bersyarat pada konseli
5.      Konseli melakukan pemahaman empati sesuai dengan kerangkan berpikir konseli tanpa harus terhanyut dalam dunia konseli dan berusaha untuk mengkomunikasikan empatinya tersebut pada konseli
6.      Yang dikomunikasikan kepada konseli berupa empati maupun penghargaan positif tak bersyarat adalah komunikasi yang sesedikit mungkin bisa diterima oleh konseli

6.   MEKANISME PENGUBAHAN
a.   Prosedur yang Disarankan
      Person-centered therapy tradisional tidak bekerja dengan standar penilain atau prosedur diagnosa. Rogers menyatakan “Diagnosa Psikologis biasanya dimengerti sebagai sesuatu yang tidak wajib untuk psikoterapi dan mungkin jadi mengganggu proses terapi”. (Rogers, 1951, P.220).
      Tetapi dalam pertumbuhannya, kekurangan diagnosis yang potensial, menyebabkan person-centered therapy menggunakan prosedur diagnostik semata-mata untuk tujuan komunikasi yang professional. Sebagai contohnya, karena asuransi perusahaan memerlukan label diagnosa untuk pembayaran, maka konselor person-centered perlu melakukan prosedur diagnosa.
Person-centered therapy kontemporer kadang-kadang menggunakan prosedur penilaian. Goldmann dan Greenberg’s menjelaskan bahwa mereka menggunakan prosedur penilaian pada formulasi layanan idiografis, namun penilaian itu tidak ditunjukkan berdasarkan teori daripada kenyataan yang sebenarnya.
b.   Teknik-teknik yang dianjurkan
Teknik yang dianjurkan dalam person-centered therapy adalah syarat utama yang harus dimiliki oleh konselor, yaitu :
  1. Mengalami dan Memperlihatkan Kongruen
Kesesuaian, kecocokan, harmoni (kongruen) konselor menjadi bagian yang diimplikasikan pada konseling dan pada konselor (sommers Flanagan – Sommers Flanagan 2003).
Kongruen di sini berarti bahwa konselor membuka dirinya pada pengalaman yang bersifat emosi yang terjadi pada hubungan konseling. Kehangatan dan kesabaran saat konseli tertekan, kemarahan saat konseli menyerang dengan paksaan-paksaan yang kuat, kebosanan saat konseli mengomel, merupakan hal-hal yang menggambarkan konselor bertindak apa adanya.
Semakin baik konselor melakukan sikap kongruen, semakin besar pula kemungkinan konseling itu akan mencapai tujuannya.
  1. Mengalami dan Menunjukkan Penerimaan Positif tanpa Syarat
Semua orang membutuhkan penerimaan positif tanpa syarat dari orang lain. Banyak konselor terkadang mendapat masalah jika secara langsung menunjukkan penerimaan positif tanpa syarat kepada konseli, karena dua alasan.
Pertama, ekspresi penerimaan positif tanpa syarat yang berlebihan dapat membuat konseli senang berlebihan. Kedua, perkatan “Saya peduli denganmu” atau “Saya tidak mau menghakimimu”, mejadi pandangan yang terkesan palsu dan tidak realistik, khususnya jika konselor banyak membuang waktu dengan konseli.
Untuk itu, penerimaan/ penghargaan positif tanpa syarat harus dilakukan oleh konselor diimbangi dengan sikap kongruen, agar tidak terkesan mengada-ada atau dibuat-buat.


  1. Mengalami dan Menunjukkan Rasa Empati
·         Membuat konseli merasa nyaman atau “at home” dalam persepsi dunia privasinya
·         Peka terhadap pengertian emosi konseli dari satu moment ke moment yang lain
·         Menempatkan kehidupan orang lain sebagai masalah yang serius
·         Peka terhadap kedalaman makna, tetapi tidak larut dalam situasi konseling sehingga konselor tidak kehilangan kesadaran diri

7.   CONTOH KASUS KONSELING DENGAN MODEL PERSON-CENTERED
Contoh kasus di bawah ini berbentuk percakapan konseling antara Carl Rogers (CR) dengan seorang wanita muda yang diidentifikasikan sebagai PS.
   CR    :  Saya ingin Anda bersedia menceritakan segala sesuatu mengenai diri Anda dan keadaan Anda serta apa yang Anda rasakan mengenai diri maupun keadaan Anda. Atau apapun yang belum saya sebutkan di atas, namun ingin Anda ceritakan pada saya untuk membuat saya mengenal Anda dengan jauh lebih baik, saya akan merasa senang sekali. (Opening, dengan tujuan konselor ingin mendengar apapun yang dikatakan konseli untuk mendapatkan masalah inti konseli agar konselor bisa membantunya.
      PS     :  Dari mana Anda ingin saya mulai bercerita?
   CR    :  Dari manapun Anda mulai, saya pasti menyukainya (respons klasik dari konselor, merupakan komponen dasar dari person-centered therapy)
   PS     :  Baiklah, saya akan mulai dari masa kecil saya. Ketika saya masih menjadi gadis kecil, saya sudah mengalami mata juling sejak usia 7 tahun. Dan saya artikan masa kecil saya tidak menyenangkan. Tahun-tahun itu saya lalui dengan sangat lama hingga bertambahnya waktu. Saya tidak pernah punya pacar atau sejenisnya, saya kira saya pernah punya teman-teman perempuan, tapi setelah mereka pergi dengan anak laki-laki, saya rasa para anak laki-laki itu melarang mereka pergi denganku. Aktivitas saya lakukan tanpa teman-teman perempuan saya karena ternyata mereka lebih memilih untuk menghianati saya. Dan tidak ada anak perempuan seusia saya di lingkungan tetangga. Saya merasakan hal itu buruk, saya tidak bisa menemukan apa yang saya inginkan.
   CR    :  Jadi, kamu lebih memilih menyakiti dirimu dengan tidak memiliki teman, dan apakah saya benar bahwa Anda merasa letak penyebab dari hal ini adalah mata Anda?
   PS     :  Ya, kelihatannya mungkin demikian. Tapi di tahun terakhir saya di sekolah, saya memiliki seorang teman perempuan, tapi dia bukanlah seorang perempuan yang sangat baik, tapi saya kira ketika dia bersama saya, dia sangat baik. Dan suami saya melarang saya untuk pergi bersama perempuan itu karena dia tidak menyukainya.
   CR    :  Jadi, Anda merasa, dia adalah teman perempuan yang Anda sukai, meskipun dia tidak memiliki reputasi yang cukup bagus, dan suami Anda melarang Anda untuk bersosialisasi dengannya (Summary parafrase)
   PS     :  Ya, seperti diri saya. Saya memilih untuk tinggal di rumah sepanjang hari dengannya yang tidak menginginkan saya pergi dengan teman-teman, dan dia juga tidak ingin saya pergi sendirianke beberapa tempat. Saya pikir, dia ingin mengajak saya pergi pada suatu kesempatan. Saya ingin pergi dengannya. Lalu, jika kami pergi ke tempat dansa atau sejenisnya, dia berdansa dengan perempuan lain dan dia tidak pernah berdansa dengan saya.
   CR    :  Jika memang dia tidak memberikan perhatian pada Anda, Anda juga bisa melakukan hal yang sama.
   PS     :  Yah, apa yang baik untuk angsa yang jantan, tentu juga baik untuk angsa betina.
      CR    :  Hm…. Hm… (Silence)
   PS     :  Itulah apa yang selalu saya katakan, Dan sekarang kondisi rumah saya sepertinya kosong. Suami saya tidak ingin saya pergi ke beberapa tempat, begitu juga dengan Ibu saya. Saudara laki-laki saya tinggal satu atap di kamar bawah dengan Ibu saya. Dan saya tidak suka hal itu. Saya fikir, Ibu saya tidak menikah dengannya, dan sekarang dia berlagak seperti ayah bagi kedua saudara laki-laki saya, kami tinggal di tempat Ibu saya dan setelah saya menikah, dia mencoba untuk selalu memerintah saya.
   CR    :  Jadi, sesuatu yang tidak Anda sukai lainnya adalah Anda tidak menyukai Ibu Anda dan juga dia, karena dia berlagak seolah-olah sudah menikah dengan Ibu Anda.
      CR    :  Kelihatannya Anda marah dengan hal ini. (Reflection of Feeling)
   PS     :  Ya, benar. Saya bermaksud tidak peduli akan hal ini, saya pikir setiap orang pasti akan menentang apa yang dilakukan oleh Nenek saya.
      CR    :  Saya rasa, saya tidak mengetahui hal tersebut.
   PS     :  Baiklah. Nenek saya juga tidak menyukai hal yang dilakukan Ibu saya, hanya saja beliau tidak memiliki siapapun untuk diajak bercerita tentang hal itu.
   CR    :  Oke, jika demikian, bisa saya simpulkan bahwa Anda ingin mengatakan “Bukan hanya Anda yang merasakan kurang senang dengan Ibu Anda serta kondisinya saat ini.” (Clarification)
            Dalam sesi-sesi selanjutnya, konseli akan lebih terbuka pada konselor dengan perlakuan konselor yang seperti tersebut di atas, karena pada dasarnya, konseling digunakan untuk menumbuhkan kepercayaan diri konseli mengenai apa yang akan diceritakannya pada konselor untuk kemudian.

8.   KRITIK TERHADAP KONSELING PERSON-CENTERED THERAPY
a)      Pada satu sisi, konseling dengan pendekatan person-centered, memiliki nilai positif yaitu mempercayai konseli seutuhnya. Secara teoritis, jika seorang individu menerima hubungan yang khusus, Rogers mengatakan bahwa dia akan mengalami aktualisasi diri yang positif. Secara mendasar, ada dua masalah mengenai asumsi ini. Yang pertama, tidak mungkin bagi individu untuk memiliki lingkungan yang ideal setiap waktu, dan yang kedua dengan semua kebencian, prasangka, dan kejahatan sehari-hari, fakta-fakta tersebut tidak mendukung pernyataan Rogers.
b)      Rogers melihat konseli untuk 50 kali atau lebih dalam sesi konseling. Hal ini sangat tidak sesuai dengan keadaan ekonomi serta masyarakat yang modern. Bagaimana mungkin konseling dengan pendekatan person-centered memakan waktu sebegitu lama.
c)      Person-centered bisa menguntungkan bagi orang-orang yang bisa memanfaatkannya dengan baik, namun tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan person-centered



(disajikan dalam presentasi matakulian Konseling Individual Naning, dkk Februari 2009)

1 komentar:

  1. Terima kasih Postingannya sangat membantu.... terus berkarya.

    BalasHapus